BARELANGPOS.COM, BATAM – Jaringan penyelundupan barang di Batam kian rapi. Kali ini, modusnya memanfaatkan perusahaan jasa ekspedisi dan logistik.
Sebuah ruko yang juga merupakan gudang pengiriman barang tanpa kena cukai di ruko pantai permata terpantau ,di ruko tersebut menjadi tempat pengiriman barang tanpa kena cukai ,laptop, ponsel, dan barang elektronik lainnya ke luar daerah tanpa terendus petugas Bea dan Cukai Batam.
Ruko Pantai Permata, Lubuk Baja, menjadi sorotan. Aktivitas di sana tak biasa. Dua truk Wingbox putih tanpa logo Lion Parcel terparkir di depan ruko.
Dua mobil pickup putih ikut mengapit. Siang hari, ruko itu mati suri. Tak ada orang keluar masuk. Tak ada suara bongkar muat.
Namun, ketika senja tiba, ritme berubah. Mobil-mobil itu mulai bergerak. Hanya bagian belakang kendaraan yang masuk ke dalam pintu ruko. Proses itu berlangsung cepat, tertutup, dan hanya pada hari-hari tertentu.
“setiap hari ada kegiatan. Biasanya mulai sore, hingga malam hari ” ujar Nanda, warga Pantai Permata.
Kecurigaan warga bukan isapan jempol. Sumber terpercaya menyebut tempat itu sengaja disewa dan dijadikan kamuflase.
Ruko tersebut dijadikan persinggahan atau gudang sementara barang ilegal, sebelum dikirim keluar Batam tanpa membayar pajak ke negara .
Komoditasnya diduga kuat barang elektronik, laptop, dan ponsel,spart part ,serta semua barang bernilai tinggi yang kerap lolos dari pantauan bea cukai.
Pola ini menunjukkan sindikat bekerja terstruktur. Ekspedisi hanya topeng. Pengiriman diatur tak menentu agar tak membangun pola yang mudah dibaca petugas.
Mobil tanpa atribut dipakai untuk menghindari kecurigaan di jalan dan pelabuhan. Semua dirancang agar barang bukti lenyap sebelum sempat diperiksa.
Batam, selama ini dikenal sebagai pintu masuk barang elektronik selundupan dari luar negeri, kini berubah fungsi dari titik transit menjadi pangkal distribusi domestik.
Dan modus ekspedisi yang seharusnya jadi solusi logistik, kini justru dimanfaatkan sebagai celah penyelundupan.***

